Langsung ke konten utama

Saudaraku, Cukuplah Allah Bagi Kita


Dalam menjalani hidup, kita kadang merasa seperti berada di lembah paling bawah dari setiap fase kehidupan sehingga membuat kita terpuruk, membuat kita seperti tak ada lagi harapan untuk melanjutkan hidup, tak ada lagi bahu untuk bersandar, dan tak ada lagi telinganya yang siap mendengarkan segala keluh kesah yang muncul dari lisan kita.

Kadang pula, kita serasa berada di titik paling atas dalam fase kehidupan kita. Apa yang kita inginkan semua tercapai, apa yang kita laksanakan semuanya terwujud, dan apa yang kita cita-citakan bisa menjadi kenyataan. Seolah itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Saudaraku
Sesungguhnya itu semua merupakan ujian yang Allah berikan kepada kita semua, sejauh mana kita mampu melalui ujian tersebut.
Ketika kita merasa berada di titik paling bawah dari setiap fase hidup, mungkin kita perlu memuhasabah diri kita. Mungkin ada yang salah dari apa yang telah kita lakukan, sehingga perlu rasanya untuk kita melihat ke belakang.

Saudaraku
Jangan pernah menyerah untuk menggapai ridho Ilahi, jangan pernah lelah untuk berbuat kebaikan karena sesungguhnya Allah tidak pernah tidur, Allah selalu mengawasi setiap gerak-gerik hambanya.
Ketika sebuah kebaikan yang engkau lakukan tidak  dihargai oleh makhluk Allah yang lain, tenanglah kawan, mantapkan hatimu bahwa engkau bekerja hanya untuk Allah.
Ketika suatu ketika engkau lelah, dan tak ada bahu untuk bersandar, tak ada kawan yang siap mendengarkan keluh kesahmu. Tak usah risau kawan, Bumi Allah sangat luas untuk kau bersujud.

Saudaraku
Ketika setiap langkah yang engkau lakukan salah di mata orang, biarlah kawan.
Jangan engkau risau dengan penilaian orang, karena semua orang bisa menjadi juri, tapi tidak semua orang bisa menjadi aktor.

Teruslah berbuat baik.
Biarlah engkau hina di mata manusia, yang penting engkau mulia di mata Allah, karena kelak engkau akan mempertanggungjawabkan apa yang telah engkau lakukan, bukan atas apa yang telah orang lain lakukan, Cukuplah Allah Bagimu

Kuatkan hatimu, kuatkan jiwamu, jalan ini masih panjang kawan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal kisah

Amrul Ismail, lahir pada tanggal 28 mei 1997 disebuah desa kecil yang terletak di Kabupaten Kolaka Utara Sulawesi Tenggara. Anak ke tiga dari pasangan Ismail Karang dan Dalla Aris yang merupakan keturunan asli Enrekang / Massenrenpulu. Tumbuh dan berkembang dibawah bimbingan orang tua hingga usia dua belas tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan di SDN Satu Totallang, kemudian melanjutkan pendidikan ke SMPN LASUSUA . Dari situ kemudian dia mulai meninggalkan tempat tinggalnya dan harus rela meninggalkan kedua orang tua untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mungkin agak berat untuk anak seusia itu berpisah dengan orang tua. Namun, karena keadaan yang memaksa hal itupu...