Amrul Ismail, lahir pada tanggal 28 mei 1997 disebuah desa kecil yang terletak di Kabupaten Kolaka Utara Sulawesi Tenggara. Anak ke tiga dari pasangan Ismail Karang dan Dalla Aris yang merupakan keturunan asli Enrekang / Massenrenpulu.
Tumbuh dan berkembang dibawah bimbingan orang tua hingga usia dua belas tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan di SDN Satu Totallang, kemudian melanjutkan pendidikan ke SMPN LASUSUA . Dari situ kemudian dia mulai meninggalkan tempat tinggalnya dan harus rela meninggalkan kedua orang tua untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mungkin agak berat untuk anak seusia itu berpisah dengan orang tua. Namun, karena keadaan yang memaksa hal itupun harus terjadi demi masa depan yang lebih baik.
Jiwanya kemudian bangkit dan semangat ketika orang tuanya memberinya wejangan bahwa "jika kau tidak berani untuk pergi, maka kau akan tetap seperti itu".
Jiwanya kemudian beronta, melalui nasehat itu ia kemudian mulai tegar menjalani kehidupannya.
Setelah menjalani tiga tahun di sekolah menengah pertama, ia bimbang akan melanjutkan pendidikan di sekolah mana. Ia ingin melanjutkan pendidikan ke salah satu sekolah kejuruan di Kabupaten Enrekang yg merupakan daerah asal orang tuanya, namun disisi lain orang tuanya meminta agar ia melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah kejuruan kesehatan yang ada di Kolaka Utara. Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya ia mengikuti keinginan orang tuanya, meskipun hatinya masih terpaut pada sekolah kejuruan di daerah asal orang tuanya. Tetapi karena keinginan orang, ia tidak bisa menolak.
Dan benar saja, setelah mengenyam pendidikan di smk kesehatan tersebut, ia banyak belajar apa arti kehidupan, ia banyak belajar mana yang salah mana yang benar, ia banyak belajar bagaimana cara menjadi seorang pemimpin, ia banyak belajar tentang bagaimana memaknai kehidupan.
SMK Kesehatan Opu Mapata adalah sekolahnya. Dirikaan oleh saudara kandung bupati Kolaka Utara.
Tiga tahun menenyam pendidikan ditempat tersebut, ia kemudian kembali kekampung halaman orang tuanya, Enrekang. Menghabiskan waktu berbulan-bulan sebelum masuk ke dunia kampus.
Gagal lolos dibeberapa perguruan tinggi negeri yang ada di Indonesia, ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke salah satu Universitas swasta di Kota Makassar dan melanjutkan jurusannya dikala SMK.
Tak sampai setahun ia kuliah di kampus tersebut, ia kemudian memutuskan untuk pindah ke salah satu kampus swasta yang juga terletak di Kota Makssar.
STAI Al-Azhar Gowa, itulah perguruan tinggi swasta tempat ia mengenyam pendidikan sampai saat ini. Belum genap setahun ia kuliah disana, ia sudah merasakan perubahan luar biasa yang terjadi pada dirinya. Ia menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya, ia bangkit dari banyak keterpurukan yang pernah ia alami, ia mampu bangkit, ia mampu kembali membangun sebuah pondasi dalam hidupnya.
Tak dapat dipungkiri bahwa untuk berubah butuh kesabaran ekstra, untuk sukses banyak yang harus di korbankan karena sukses itu butuh kesabaran sebagai bekalnya, syukur penyuburnya, ikhlas penjaganya dan takabbur perusak yang paling ganas dan cepat.
Dikehidupannya yang lalu, ia telah mengerti bahwa hidup ini tidak mesti harus bahagia.
Dikampus tersebut ia menyemai mimpi baru, ia membuat adonan baru, ia kembali memodifikasi sendi-sendi kehidupannya.
Di tempat hijau tersebut ia terbangun untuk mengejar mimpinya, karena ia punya misi besar dalam hidupnya yang akan terus ia perjuangkan. Allahu akbar.
Tumbuh dan berkembang dibawah bimbingan orang tua hingga usia dua belas tahun. Setelah menyelesaikan pendidikan di SDN Satu Totallang, kemudian melanjutkan pendidikan ke SMPN LASUSUA . Dari situ kemudian dia mulai meninggalkan tempat tinggalnya dan harus rela meninggalkan kedua orang tua untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mungkin agak berat untuk anak seusia itu berpisah dengan orang tua. Namun, karena keadaan yang memaksa hal itupun harus terjadi demi masa depan yang lebih baik.
Jiwanya kemudian bangkit dan semangat ketika orang tuanya memberinya wejangan bahwa "jika kau tidak berani untuk pergi, maka kau akan tetap seperti itu".
Jiwanya kemudian beronta, melalui nasehat itu ia kemudian mulai tegar menjalani kehidupannya.
Setelah menjalani tiga tahun di sekolah menengah pertama, ia bimbang akan melanjutkan pendidikan di sekolah mana. Ia ingin melanjutkan pendidikan ke salah satu sekolah kejuruan di Kabupaten Enrekang yg merupakan daerah asal orang tuanya, namun disisi lain orang tuanya meminta agar ia melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah kejuruan kesehatan yang ada di Kolaka Utara. Melalui berbagai pertimbangan, akhirnya ia mengikuti keinginan orang tuanya, meskipun hatinya masih terpaut pada sekolah kejuruan di daerah asal orang tuanya. Tetapi karena keinginan orang, ia tidak bisa menolak.
Dan benar saja, setelah mengenyam pendidikan di smk kesehatan tersebut, ia banyak belajar apa arti kehidupan, ia banyak belajar mana yang salah mana yang benar, ia banyak belajar bagaimana cara menjadi seorang pemimpin, ia banyak belajar tentang bagaimana memaknai kehidupan.
SMK Kesehatan Opu Mapata adalah sekolahnya. Dirikaan oleh saudara kandung bupati Kolaka Utara.
Tiga tahun menenyam pendidikan ditempat tersebut, ia kemudian kembali kekampung halaman orang tuanya, Enrekang. Menghabiskan waktu berbulan-bulan sebelum masuk ke dunia kampus.
Gagal lolos dibeberapa perguruan tinggi negeri yang ada di Indonesia, ia kemudian memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke salah satu Universitas swasta di Kota Makassar dan melanjutkan jurusannya dikala SMK.
Tak sampai setahun ia kuliah di kampus tersebut, ia kemudian memutuskan untuk pindah ke salah satu kampus swasta yang juga terletak di Kota Makssar.
STAI Al-Azhar Gowa, itulah perguruan tinggi swasta tempat ia mengenyam pendidikan sampai saat ini. Belum genap setahun ia kuliah disana, ia sudah merasakan perubahan luar biasa yang terjadi pada dirinya. Ia menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya, ia bangkit dari banyak keterpurukan yang pernah ia alami, ia mampu bangkit, ia mampu kembali membangun sebuah pondasi dalam hidupnya.
Tak dapat dipungkiri bahwa untuk berubah butuh kesabaran ekstra, untuk sukses banyak yang harus di korbankan karena sukses itu butuh kesabaran sebagai bekalnya, syukur penyuburnya, ikhlas penjaganya dan takabbur perusak yang paling ganas dan cepat.
Dikehidupannya yang lalu, ia telah mengerti bahwa hidup ini tidak mesti harus bahagia.
Dikampus tersebut ia menyemai mimpi baru, ia membuat adonan baru, ia kembali memodifikasi sendi-sendi kehidupannya.
Di tempat hijau tersebut ia terbangun untuk mengejar mimpinya, karena ia punya misi besar dalam hidupnya yang akan terus ia perjuangkan. Allahu akbar.
Komentar
Posting Komentar